Program Studi S1 Farmasi Universitas Khairun Ubah Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe Menjadi Produk Kesehatan Bernilai Ekonomi
Program Studi S1 Farmasi Universitas Khairun Ubah Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe Menjadi Produk Kesehatan Bernilai Ekonomi
Ternate, 14 Juli 2026 oleh apt. Aditya Sindu Sakti, M.Si.
Ternate — Program Studi S1 Farmasi Universitas Khairun mendorong pemanfaatan limbah kulit Pisang Mulu Bebe menjadi produk kesehatan bernilai ekonomi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Kantor Lurah Jati, Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa, 7 Juli 2026. Kegiatan bertema “Revitalisasi Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe sebagai Produk Kesehatan Ekonomis dalam Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Kelurahan Jati Maluku Utara” tersebut membekali ibu-ibu PKK dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah kulit pisang menjadi hand sanitizer dan teh herbal. Program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kegiatan usaha produktif berbasis potensi lokal sekaligus mengurangi jumlah limbah organik rumah tangga.
Program tersebut didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026. Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh apt. Hesti Trisnianti Burhan, S.Farm., M.Farm., bersama apt. Nur Asma Somadayo, S.Farm., M.Farm., Nikita Astria, S.Ak., M.M., serta didukung oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Kelurahan Jati, dalam mengolah limbah kulit Pisang Mulu Bebe menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. Selama ini, kulit pisang umumnya hanya dibuang sebagai limbah rumah tangga, meskipun bahan tersebut diketahui memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan produk kesehatan.
Menurut tim pengabdian, kulit Pisang Mulu Bebe mengandung sejumlah senyawa, antara lain flavonoid dan saponin, yang memiliki potensi aktivitas antioksidan dan antibakteri. Potensi tersebut menjadi dasar pengembangan kulit pisang sebagai bahan baku produk inovatif yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah ini juga diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik, dari bahan buangan menjadi sumber daya yang dapat diolah kembali. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembagian pamflet edukasi, serta pengisian pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta. Kegiatan kemudian dibuka oleh Lurah Jati, Arafik Gapang, S.E., yang menyampaikan dukungannya terhadap program pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan potensi lokal.
Peserta memperoleh penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, manfaat kandungan senyawa aktif pada kulit Pisang Mulu Bebe, pengelolaan limbah organik rumah tangga, serta peluang pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan baku produk kesehatan dan usaha rumah tangga. Materi disampaikan secara praktis agar mudah dipahami dan dapat diterapkan oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari. Selain memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan dan lingkungan, tim juga menjelaskan pentingnya menciptakan nilai tambah dari bahan-bahan lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pengolahan yang tepat, kulit pisang dinilai berpotensi dikembangkan menjadi produk yang mempunyai manfaat, daya tarik, dan nilai ekonomi.
Sebagai penerapan dari materi yang diberikan, tim Universitas Khairun mendemonstrasikan proses pembuatan dua produk inovasi, yaitu MubeHand dan MubeTea. MubeHand merupakan produk hand sanitizer yang menggunakan ekstrak kulit Pisang Mulu Bebe sebagai salah satu bahan pengembangannya. Produk ini memanfaatkan potensi senyawa flavonoid dan saponin yang terdapat pada kulit pisang. Sementara itu, MubeTea diperkenalkan sebagai produk teh herbal berbahan kulit Pisang Mulu Bebe. Melalui tahapan pengolahan dan penyajian yang tepat, bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi minuman herbal bernilai tambah.
Dalam sesi demonstrasi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pemilihan bahan, pembersihan, pengolahan, pembuatan produk, penyimpanan, hingga pengemasan. Tim pengabdian tidak hanya memperlihatkan proses produksi, tetapi juga melibatkan peserta agar memahami langkah-langkah yang harus dilakukan apabila produk tersebut dikembangkan secara mandiri. Peserta turut memperoleh pendampingan mengenai teknik pengemasan, pemberian identitas produk, strategi pemasaran, penentuan harga, serta pengelolaan usaha sederhana. Pendampingan ini diberikan agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap percobaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif yang dikelola oleh keluarga maupun kelompok PKK.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan mengenai keamanan bahan, proses pembuatan, komposisi produk, teknik penyimpanan, masa simpan, penggunaan kemasan, serta peluang pemasaran produk kepada masyarakat yang lebih luas. Para peserta juga menanyakan kemungkinan pengembangan produk dalam skala usaha rumah tangga. Hal tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadikan keterampilan yang diperoleh sebagai bagian dari kegiatan ekonomi produktif. Pada akhir kegiatan, seluruh peserta mengisi post-test sebagai bagian dari evaluasi. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk mengukur perubahan tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti penyuluhan dan demonstrasi. Evaluasi juga menjadi dasar bagi tim pengabdian untuk merancang bentuk pendampingan lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, apt. Hesti Trisnianti Burhan, mengatakan pemanfaatan kulit Pisang Mulu Bebe diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan penelitian atau demonstrasi, tetapi dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat. “Kami berharap pemanfaatan kulit Pisang Mulu Bebe tidak berhenti sebagai inovasi penelitian, tetapi dapat diterapkan oleh masyarakat menjadi produk kesehatan yang bernilai ekonomi dan mendukung pemberdayaan keluarga,” ujar Hesti. Ia menjelaskan, keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Pengetahuan dan hasil penelitian perguruan tinggi perlu diterapkan dalam bentuk teknologi yang sederhana, mudah digunakan, dan sesuai dengan ketersediaan sumber daya di lingkungan masyarakat.
Lurah Jati, Arafik Gapang, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan pengabdian yang dilakukan Universitas Khairun memberikan pengetahuan baru sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai peluang pengembangan potensi lokal. “Program ini memberikan pengetahuan baru sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal menjadi produk yang bermanfaat bagi kesehatan dan perekonomian warga,” kata Arafik. Ia berharap kerja sama antara pemerintah kelurahan, masyarakat, dan Universitas Khairun dapat dilanjutkan melalui pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan. Pendampingan dinilai diperlukan agar masyarakat mampu menjaga kualitas produk, meningkatkan keterampilan produksi, memperbaiki kemasan, serta mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Pemanfaatan kulit Pisang Mulu Bebe juga dinilai memiliki manfaat dalam mendukung pengurangan limbah organik rumah tangga. Kulit pisang yang sebelumnya langsung dibuang dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki kegunaan dan nilai ekonomi. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengurangi limbah melalui pemanfaatan kembali bahan menjadi produk baru yang lebih bernilai. Dalam skala rumah tangga, pengolahan kulit pisang dapat membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah dan memanfaatkan sampah organik secara lebih bertanggung jawab. Bagi ibu-ibu PKK, kegiatan tersebut juga dapat menjadi alternatif usaha yang memanfaatkan bahan lokal yang mudah diperoleh di Maluku Utara.
Meski demikian, pengembangan produk kesehatan untuk dipasarkan secara luas tetap memerlukan proses lanjutan. Beberapa tahapan yang perlu diperhatikan meliputi standardisasi bahan baku, penyempurnaan formulasi, pengujian mutu dan keamanan, penentuan masa simpan, serta pemenuhan ketentuan perizinan sesuai dengan jenis produk yang akan dipasarkan. Antusiasme ibu-ibu PKK Kelurahan Jati selama kegiatan menjadi modal awal bagi keberlanjutan program. Para peserta berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak berakhir setelah sosialisasi, melainkan terus dikembangkan melalui kegiatan pelatihan, pendampingan produksi, penguatan kelembagaan usaha, serta bantuan pemasaran. Dengan dukungan Universitas Khairun, Pemerintah Kelurahan Jati, dan masyarakat, pengolahan kulit Pisang Mulu Bebe diharapkan mampu melahirkan produk lokal yang inovatif, meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga, memperluas peluang usaha masyarakat, serta mendorong pengelolaan limbah organik secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.
HUBUNGI KAMI
Alamat:
Jl. Pertamina Kampus II Unkhair Gambesi Kota Ternate Selatan.
E-mail:
Telepon/Fax:
0921-3110901
0921-3110903
Hak Cipta © 2025 Program Studi S1 Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Khairun